Strategi Branding Inovatif: Model JEMPOL Karya Dosen Ilmu Komunikasi untuk Perajin Gula Kelapa di Ngoran

Model JEMPOL : Strategi Branding untuk Produk Gula Kelapa Desa Ngoran

Universitas Islam Balitar (UNISBA Blitar) kembalimenunjukkan komitmennya dalam mendukung  penguatan ekonomi lokal berbasis produk unggulan gula kelapa. Melalui skema Penelitian Dosen Pemula (PDP), tim dosen UNISBA Blitar mengembangkan strategi branding produk gula kelapa “Model JEMPOL” di Desa Ngoran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Model JEMPOL, akronim dari Jelajah Pasar, Eksplorasi Identitas, Merek, Promosi, Olah Pelanggan, dan Loyalitas.

Para perajin gula kelapa di Desa Ngoran. Ketua Tim PDP, Anita Reta Kusumawijayanti dari Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNISBA Blitar, menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari kondisi perajin yang masih memasarkan gula kelapa secara tradisional.   Sebagian besar produk dijual melalui pengepul dalam bentuk gula cetak berukuran besar dengan kemasan sederhana tanpa merek. Padahal, gula kelapa Ngoran dikenal memiliki cita rasa khas yang manis alami, dan gurih.

“Selama ini gula kelapa hanya dijual kiloan dalam plastik di pasar-pasar tradisional. Padahal, Desa Ngoran memiliki sejarah panjang sebagai sentra gula kelapa sejak masa pra-kemerdekaan. Maka diperlukan strategi branding   baik dari segi pemasaran, pengemasana   agar produk ini bisa bersaing di pasar modern,” ujarnya. 

Berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara mendalam yang telah dilakukan bersama anggota tim penelitian, yakni Sutowo Dosen dari Prodi Ilmu Administrasi Negara serta Dwi Lailatus Saadah ditemukan bahwa minimnya kesadaran akan pentingnya branding membuat gula kelapa Desa Ngoran belum memiliki diferensiasi yang kuat dibanding produk sejenis dari daerah lain. Kemasan yang digunakan perajin relatif sederhana dan belum mencerminkan identitas lokal maupun nilai tambah produk. Hal ini membuat gula kelapa Ngoran kurang menonjol di pasar yang semakin kompetitif.

Selain itu, perajin gula kelapa juga belum banyak memanfaatkan strategi komunikasi pemasaran modern, seperti media sosial atau platform digital. Produk masih mengandalkan penjualan tatap muka di pasar tradisional, sehingga jangkauan pasarnya terbatas. Kondisi inilah yang menjadi urgensi lahirnya Model JEMPOL, agar gula kelapa Ngoran bisa lebih dikenal luas tanpa meninggalkan nilai tradisi.

“Selama ini perajin gula kelapa Ngoran belum banyak yang berjualan di medsos , sehingga Model JEMPOL dihadirkan agar produk bisa dikenal lebih luas tanpa meninggalkan tradisi,” jelas Reta.

Foto: Ania Reta bersama peserta FGD saat Kegiatan Hibah PDP Tahun 2025 di Kantor Desa Ngoran
Foto: Ania Reta bersama peserta FGD saat Kegiatan Hibah PDP Tahun 2025 di Kantor Desa Ngoran

Kondisi ini diperkuat oleh pengakuan  perajin gula kelapa asal Desa Ngoran, Ibu Siti Rosidah, mengaku selama ini dirinya hanya menjual gula kelapa di pasar dengan harga standar. “Kami biasanya hanya bikin gula lalu dijual kiloan yang besar-besar itu. Kalau soal merek dan kemasan yang menarik, atau logo kami belum punya. Kadang mau jual di medsos gak sempat dan tidak terbiasa,” ungkapnya.

Sementara Tedy perajin gula kelapa skala besar di Desa Ngoran ini mengakui dia selalu bertahan menggunakan  nama gula kelapa, meskipun takdimungkiri sekarang nama gula aren sangat digemari dipasaran.  Menurutnya, produk gula kelapa khas Ngoran memiliki rasa yang khas, tetapi kurang dikenal luas.

“Rasanya manisnya beda, otentik dan ada gurihnya, tapi orang luar jarang tahu. Kalau ada merek dan kemasan yang bagus, mungkin bisa dikirim ke toko besar atau bahkan dijual online,” ujarnya.

Kegiatan PDP Tahun 2025 yang mendapat pendanaan dari Kemendikbudristek dilaksanakan oleh tim peneliti yang terdiri dari Anita Reta Kusumawijayanti, Sutowo, serta Dwi Lailatus Saadah. Kegiatan ini ditujukan untuk memberikan kontribusi nyata kepada perajin gula kelapa di Desa Ngoran, khususnya dalam meningkatkan daya saing produk serta menjaga eksistensinya sebagai ikon khas Kabupaten Blitar.

Selain memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, penelitian ini juga memperkuat posisi UNISBA Blitar dalam pengembangan kewirausahaan. Lebih jauh, kegiatan ini membuka peluang kolaboratif seperti program magang bagi mahasiswa, mendorong keterlibatan aktif dalam pengabdian masyarakat, serta pemanfaatan hasil riset untuk mendukung capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Universitas.