Forum Kemisan Episode 10, Kaji Fenomena Sosial FOMO di Tengah Gen Z

Forum Kemisan Episode 10, Kaji Fenomena Sosial FOMO di Tengah Gen Z

Forum Kemisan yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Islam Balitar (UNISBA Blitar) kembali digelar di Aula Majapahit pada Kamis (22/5/2025). Membahas persoalan sosial yang kerep dialami gen z yakni Fear Of Missing Out (FOMO),Forum Kemisan yang telah berjalan hingga Episode 10 ini  diikuti sebanyak 60 peserta yang berasal dari mahasiswa dan masyarakat umum.

Forum Kemisan yang telah digelar sejak 2024 lalu merupakan wadah berbagi ilmu dan pemikirian bagi para akademisi dan mahasiswa. Pada Episode 10 ini, Forum Kemisan menghadirkan dua dosen Sosiologi sebagai narasumber, diantaranya Qommruzzaman Azam Zami, S.Sosio.,M.Sosio serta Dimas Putra Wijaya, S.Sos.,M.M.

Dalam kajian Sosiologi, menurut Kaprodi Sosiologi Novi Catur Muspito, S.Pd.,M.Si, tanpa disadari fenomena sosial sering kali terjadi di sekitar masyarakat. Ia menambahkan, ketergantungan masyarakat terhadap media sosial dapat menimbulkan beberapa risiko seperti masalah komunikasi, kehilangan prestasi, hingga menimbulkan persoalan sosial yang kerap kali dirasakan oleh generasi z, yakni Fomo.

“Oleh karenanya, coba kita bedah dan kaji fenomena sosial Fomo ini melalui Forum Kemisan dengan menghadirkan narasumber-narasumber yang memang ahlinya. Sebab, secara tidak kita sadari Fomo atau yang kita kenal dengan Fear Of Missing Out ini bisa berdampak terhadap kesehatan mental, fisik, bahkan sosial kita,” sambungnya.

Forum Kemisan Episode 10, Kaji Fenomena Sosial FOMO di Tengah Gen Z
Foto: dari kiri dosen Sosiologi Qomaruzzaman Azam Zami, Kaprodi Sosiologi Novi Catur Muspito, Dosen Sosiologi Dimas Putra Wijaya, Kaprodi Ilmu Administrasi Publik Eko Adi Susilo.

Merujuk pada penelitian Przybylski, Qomaruzzaman Azam Zami selaku narasumber pertama dikegiatan ini mendefinisikan Fomo sebagai sindrom kecemasan sosial yang ditandai denga keinginan untuk terus terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain. Ia menambahkan, Fomo kerap ditandai dengan ketergantungan pada media sosial, kesulitan lepas dari gadget, serta dampak emosional dari aktivitas daring.

“Fenomena Fomo ini tidak terlepas dari ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan media sosial. Apa yang mereka lihat hingga keinginan untuk viral sehingga hal ini berdampak signifikan terhadap pola konsumsi. Dorongan membeli produk fashion dan elektronik demi eksistensi sosialnya adalah yang paling rentan,” jelasnya.

Sementara itu narasumber kedua Dimas Putra Wijaya mengungkapkan, Fomo juga mendorong pencarian prestise digital seseorang. Gaya hidup mewah dan koneksi sosial adalah yang paling disorot. Hal tersebut dapat menciptakan harga diri semu berbasis likes dan komentar di media sosial. Lebih lanjut, dosen yang terpilih sebagai Raka Persahabatan Jawa Timur Tahun 2022 ini menambahkan, FOMO memicu perilaku seperti oversharing, doomscrolling, dan social climbing demi eksistensi daring.

“Untuk menghadapi fenomena Fomo seperti hal tersebut disarankan melakukan refleksi diri seperti kurangi konten, detoks digital, serta membangun identitas dan prestise yang otentik,” paparnya.